Adaptasi Arus Teknologi Artificial Intelligence dalam Bidang Seni

Adaptasi Arus Teknologi Artificial Intelligence dalam Bidang Seni

Sumber Gambar: freepik.com/Freepik

 

LPM Progress - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mengubah banyak hal dalam dunia kesenian dan industri kreatif, salah satunya generatif AI yang fokus pada pembuatan konten baru seperti teks, gambar, audio, dan data sintetis.

Teknologi AI bekerja dengan cara mempelajari banyak data atau informasi, lalu mengelola serta mempelajari pola-pola di dalamnya. AI dapat membuat sesuatu yang baru dengan memprediksi apa yang paling cocok dengan permintaan pengguna berdasarkan data yang sudah dipelajari.

Dalam penggunaannya, AI bagaikan pisau bermata dua yang memberikan sisi positif dan negatif saling berkaitan. Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Faizal Akbar, mencontohkan bagaimana Studio Ghibli dirugikan karena karya dan gaya seninya dapat dengan mudah ditiru dan diedarkan siapa saja lewat tren "Ghiblifikasi".

Tren Ghiblifikasi merupakan tren yang ramai digunakan dengan mengubah foto menjadi visual ala anime Studio Ghibli melalui AI. Tren yang viral di media sosial ini memicu kontroversi terkait keaslian karya dan hak cipta, sehingga menurunkan nilai eksklusivitas yang selama ini dijaga.

Faizal bilang, penggunaannya menimbulkan polemik karena satu adegan beberapa detik pada anime Ghibli membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuatnya. "Tapi tiba-tiba ada satu mesin nih yang ibaratnya memunculkan gayanya mereka terus bisa dipake dan diakses semua orang ya nilai dari eksklusifan tadi ya jadi hilang, itu yang sebetulnya diperdebatkan," ujar Faizal ketika diwawancarai di Kampus A Unindra, (19/05).

Faizal mengungkapkan karya seni bukan hanya soal visual, tetapi juga menyangkut orisinalitas, ekspresi, dan eksplorasi. Pembuatan karya seni membutuhkan keahlian dan kepekaan dalam melihat gambar, pemilihan warna, serta penentuan style gambar yang tetap memerlukan sentuhan manusia. Untuk mengolahnya, bahan yang dibutuhkan bisa dicari lewat AI, tetapi dalam pembuatannya tetap membutuhkan campur tangan manusia di dalamnya.

Dosen DKV itu juga menerangkan bahwa alasan suatu karya bisa dihargai dengan mahal dan eksklusif adalah karena mengandung perasaan, gagasan, kritik, atau pandangan seniman terhadap suatu fenomena. Nilai inilah yang tidak dapat digantikan AI.

"Buat saya ya itu belum bisa tergantikan sama AI," ujar Faizal ketika diwawancarai di Kampus A Unindra, (19/05).

Dalam dunia seni, seniman dapat mengeksplorasi kreativitas tanpa batas dengan bantuan teknologi ini. Faizal mengatakan mahasiswa seni perlu untuk beradaptasi dengan teknologi melalui penggunaan AI sebagai referensi. Ia menjelaskan konsep amati tiru dan modifikasi yang mana dalam penerapannya penggunaan AI menjadi wadah untuk mencari referensi sebuah karya seni. 

Hal senada disampaikan oleh Ale (bukan nama sebenarnya), mahasiswa sekaligus ilustrator dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Menurutnya, penggunaan AI ini tidak untuk dijadikan sebagai sumber utama dalam proses berkarya.

“Membantu dalam artian bukan menjadi pengganti, lebih menjadi asisten. Karena AI ini seharusnya diperuntukkan sebagai peralatan, bukan menjadi yang menggambar,” ujar Ale ketika diwawancarai di lorong Gedung 7, Kampus B Unindra, (19/05).

Kendati demikian, Faizal menuturkan kelegalan AI masih menjadi pro dan kontra hingga sekarang. Penggunaannya di dunia seni masih menimbulkan perdebatan soal legalitasnya, sebab belum adanya regulasi AI dalam karya seni. Lebih lanjut, masalah seperti pencurian art style ilustrasi tanpa izin, plagiarisme, dan pengeditan gambar menjadi hal yang tidak senonoh semakin marak.

Dengan begitu, Faizal berharap pemerintah bisa lebih memahami konteks dari penggunaan teknologi AI itu sendiri. “Isu-isu soal AI ini yang sebenarnya merugikan banyak pihak atau beberapa orang lain tapi akhirnya menguap begitu saja tanpa ada penyelesaian dan perhatian yang lebih serius,” ujar Faizal ketika diwawancarai di Kampus A, (19/05).

 

Penulis: Naurah Shafiqah

Editor: Ajeng Ayu Larasati