Drama Korea yang Wajib Ditonton Saat Merasa Tidak Baik-Baik Saja

Drama Korea yang Wajib Ditonton Saat Merasa Tidak Baik-Baik Saja

Sumber gambar: wallpapercave.com/w/wp7009673

LPM Progress - Pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir di dunia termasuk di Indonesia, membuat aktivitas manusia berubah total hingga melumpuhkan ekonomi secara global. Berdiam di rumah menjadi tempat paling aman agar terhindar dari virus Corona. Namun, hal ini tentu mempengaruhi psikologis manusia karena adanya perubahan kebiasaan.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melakukan riset mengenai kesehatan jiwa masyarakat. Hasilnya, 64,3 persen masyarakat mengalami cemas dan depresi akibat pandemi, sedangkan trauma psikologis sebesar 80 persen dari 1.522 responden.


Baca juga: Prevalensi Depresi di Indonesia


Walaupun semua dilakukan di rumah, kita masih bisa melakukan aktivitas produktif atau mencari hiburan alternatif di rumah seperti menghabiskan drama/film di Netflix. Baru-baru ini sebuah film serial Drama Korea (Drakor) berjudul It’s Okay to Not Be Okay menjadi trending di media sosial. Kisah penulis buku anak-anak dan perawat rumah sakit jiwa memulai perjalanan pemulihan emosi yang luar biasa saat takdir mempertemukan keduanya.
Film ini juga terkenal di negara asalnya. Pasalnya, film ini membahas tentang kesehatan mental yang relate dengan masyarakat yang belakangan sedang haus akan konten kesehatan mental.

Dalam film ini ada tiga tokoh utama yang masing-masing mempunyai berbagai gangguan mental seperti autisme, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), Antisocial Personality Disorder  (ASPD), dan Dissociative Identity Disorder atau gangguan kepribadian ganda.

Tiga tokoh tersebut adalah Moon Gang-tae yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa, Moon Sang-tae kakak dari Moon Gang-tae yang memiliki kebutuhan khusus, dan Ko Moon-young seorang penulis dongeng anak-anak yang diidolakan Sang-tae.

Dalam film ini hampir seluruh adegan berlatar di rumah sakit jiwa tempat Moon Gang-tae bekerja. Pada film tersebut menggambarkan kehidupan pasien sehari-hari di rumah sakit jiwa. Mulai dari gangguan yang mereka alami, trauma yang bisa menimbulkan gangguan, dan bagaimana dokter atau perawat memulihkan trauma pasien secara perlahan.

Moon Gang-tae dikenal sebagai sosok yang pendiam dan terlihat tenang. Dibalik diamnya ada tumpukan emosi yang bisa meledak kapan pun. Emosi yang dipendamnya sejak lama disebabkan oleh pola asuh orangtua yang mengharuskan Gang-tae untuk melindungi sang kakak selama hidupnya. Untungnya Ia memiliki sahabat yang bernama Jae Soo yang selalu menemani Gang-tae dan Sang-tae. Gang-tae yang pendiam harus selalu terlihat tenang agar kakaknya merasa aman dan nyaman. Kakak beradik itu sering berpindah-pindah agar kakaknya bisa jauh dari masa lalunya yang kelam.

Di sisi lain ada Ko Moon-young, seorang penulis dongeng anak-anak yang punya masalah sosial membuatnya lebih mirip psikopat. Dia sangat suka benda-benda tajam dan memiliki cara pandang yang berbeda mengenai kisah dongen anak-anak. Dia adalah anak dari seorang penulis novel terkenal yang selalu mengurung anaknya di sebuah rumah mewah di tengah hutan.

Sumber gambar: wallpapercave.com/w/wp7009673

Saat Ko Moon-young sedang mengisi acara pembacaan dongeng di sebuah rumah sakit jiwa, tiba-tiba acara dibatalkan karena ada pasien yang kabur untuk mencari anaknya agar mati bersama-sama. Ko Moon-young tidak terima karena dibatalkan begitu saja, akhirnya dia marah terhadap pasien yang membuat acaranya gagal. Perkelahian terjadi antara Ko Moon dan pasien sehingga Ko Moon hampir mati karena dicekik oleh pasien. Takdir berkata lain, Ko Moon diselamatkan oleh Gang-tae dan itu menjadi awal pertemuan mereka berdua. Ko Moon-young yang tak mengenal emosi bertemu dengan Gang-tae yang banyak memikul beban emosi di hatinya.

Disetiap episodenya, konflik demi konflik terus bermunculan yang membuat penonton penasaran. Seringkali konflik disebabkan oleh perubahan emosional yang begitu cepat diantara tokoh. Di samping konflik antar tokoh, ada tokoh misterius yang terungkap di episode-episode akhir. Tentu ini yang membuat klimaks di akhir season.

Dapat disimpulkan drama yang berdurasi kurang 70 menit ini mampu memberikan efek healing bagi penonton dari kisah setiap karakternya. Penonton akan dibuat sadar bahwa tidak hanya kita yang memiliki kesulitan dan pengalaman buruk. Tidak hanya kita yang sengsara akibat luka dan masih mencari kebahagiaan diri.

Seperti nama film ini bahwa “It’s Okay to Not Be Okay”, yang berarti ‘tidak apa-apa untuk jadi tidak baik-baik saja’.

 

 

Penulis: Zeinal Wujud

Editor: Refa Tri Ustati