Rahim, Luka, dan Ingatan: Membongkar Dunia Gelap Perempuan dalam Re: dan peREmpuan
Sumber Gambar: Dok/LPMProgress/NaurahShafiqah
Judul: Re: dan peREmpuan
Penulis: Maman Suherman
Cetakan: Ke sepuluh, April 2023
Jumlah halaman: 330 halaman
ISBN: 978-602-481-561-5
“Pelacur! Itu pekerjaanku!”
“Lebih tepatnya, pelacur lesbian!”
“Lonte! Sampah Masyarakat!”
Seperti itulah pengakuan lantang yang diberikan oleh Re:, si pelacur berdarah sunda ketika diwawancarai oleh Herman. Tiga baris kalimat yang selalu terulang dibenakku ketika mengingat novel ini. Sebuah novel dengan cover berwarna biru yang menenangkan, tapi berbanding terbalik dengan isinya, yang justru memperlihatkan sisi gelap dunia dan lika-liku kehidupan perempuan yang penuh dengan luka dan air mata.
Novel Re: dan peREmpuan merupakan sekuel dari novel Re: yang diangkat dari kisah nyata. Sekuelnya berlatar 26 tahun setelah kematian Re: dan menceritakan kehidupan Melur, anak semata wayang Re:, yang tidak digugurkan karena hasil hubungan di luar nikah. Semasa kecilnya Melur tak pernah tahu siapa ibu aslinya, hanya sekadar mengenal Re: sebagai tante baik hati yang selalu memberikan hadiah tanpa pernah melihat sosok aslinya.
26 tahun setelah kematian Re:, Melur tumbuh menjadi gadis dewasa dan berpendidikan tinggi, dari sebuah Universitas Hitotsubashi, di Kunitachi City, Jepang. Ia pulang ke tanah air membawa gelar Doctor of Philosophy (PhD) in Economics dan mencari jawaban atas segudang pertanyaan mengenai ibu aslinya. Jawaban yang akan membuka kembali kenangan-kenangan lama yang haru tapi pilu.
Bab pertama dalam novel dibuka dengan peristiwa mengenaskan, kematian Sinta, salah satu teman Re: yang sama-sama bekerja sebagai Pekerja Seks (PS). Santi adalah teman sekamar Re:, sekaligus sahabat tempat Re: curhat dan bersandar selama menjadi PS di bawah naungan Mami Lani, salah seorang germo paling berkuasa di Jakarta.
Kisah ini kemudian dilanjut dengan awal pertemuan Re: dengan Herman, seorang mahasiswa jurusan kriminologi serta perjuangannya mendekati Re: untuk dijadikan objek penelitian skripsinya. Sejak hari itu, Herman mulai terseret dalam gelapnya dunia prostitusi. Tidak hanya membahas kehidupan kelam Re: dan teman-temannya, Herman juga turut memberikan pemahaman bahwa Re: dan teman-teman pelacurnya juga seorang manusia yang bernapas, berpikir, dan punya perasaan.
Beberapa istilah dunia pelacuran dan kriminologi juga ikut mewarnai isi buku ini, menambah pengetahuan baru bahwa pelacur bukan sekadar lahir dari kemiskinan, tapi juga berkembang di bawah gemerlap dunia elit.
Salah satu istilah kriminologi yang bisa dikaitkan dengan fenomena pelacur yang menarik perhatianku adalah ‘viktimitas’, lawan kata dari ‘kriminalitas’. Sebuah istilah yang diciptakan oleh Benjamin Mendelsohn, sang perintis Ilmu Viktimologi. Secara sederhana, ‘viktimitas’ adalah kerentanan atau keadaan seseorang yang menjadikan dirinya sebagai korban kejahatan.
Dalam buku ini, kita bisa mengambil contoh berupa kondisi Re: dan teman-temannya yang bekerja sebagai PS, lebih rentan menjadi korban Kekerasan Seksual (KS), di mana dalam pandangan umum masyarakat ‘sangat wajar’ jika mereka mengalami pelecehan.
Masyarakat cenderung menyalahkan cara berpakaian, profesi, atau sikap korban KS yang dianggap mengundang nafsu pelaku, ditambah dengan sikap aparat yang turut memojokkan korban KS dengan memberikan pertanyaan atau komentar tidak pantas. Mengabaikan fakta bahwa kasus KS bukanlah kesalahan korban, melainkan murni kesalahan pelaku.
Novel ini tidak hanya menggambarkan sisi kelam dari dunia prostitusi, tetapi juga menghadirkan sisi cinta mendalam Re: sebagai seorang ibu kepada anaknya, Melur. Terlepas dari kehidupannya sebagai seorang pelacur lesbian, Re: tetap memastikan buah hatinya hidup aman dan nyaman tanpa kekurangan apapun. Re: hanya bisa mengamati dari jauh, ia tak ingin setetes keringat dari pelacur sepertinya melekat di tubuh anak semata wayangnya.
“Gue ini pelacur. Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur… peluk dia untukku,” sebaris kalimat yang menjadi bukti cinta Re: pada anaknya.
Tak hanya fokus pada kisah Re: dan Melur, Herman juga turut menggambarkan secara gamblang bagaimana kehidupan para pelacur di Jakarta untuk bertahan hidup. Saat turun pertama kali untuk meliput, Herman melihat para perempuan yang duduk berjajar di sebuah ruangan dengan dinding kaca besar seperti aquarium besar.
Para tamu yang datang tinggal menunjuk nomor yang terpampang di dada mereka, dan yang terpilih akan keluar untuk melayani. Pekerja seks tak bisa leluasa memilih siapa saja yang ingin mereka layani, sehingga lebih rentan mengalami kekerasan. Bayangan kematian juga ikut menghantui para pelacur yang bekerja di bawah germo. Sedikit saja melawan atau mencoba kabur keluar, pemilik germo tak akan segan untuk menghilangkan nyawa.
Meski berfokus pada pelacur lesbian, Herman juga menjelaskan berbagai macam jenis orientasi seksual di dalamnya termasuk klasifikasi pelacuran yang menurutnya terbagi menjadi empat macam jenis, yaitu jenis kelamin, jenis permintaan, menurut lokasi, dan frekuensi.
Demi memperdalam penelitiannya, Herman terjun langsung ke dalam kehidupan mereka hingga menyusup diam-diam ke dalam pesta seks demi mendapatkan data penelitian. Sebagai pembaca kita diperlihatkan cara kerja dunia prostitusi yang beragam, risiko-risiko yang dihadapi para pekerja seks, perselisihan dan kematian yang tentunya tidak jauh dari bau anyir darah.
Buku kehidupan perempuan memang tak pernah jauh dari air mata, dendam, dan luka, begitu pula dengan novel karangan Maman Suherman ini yang berani mengangkat isu-isu tidak biasa yang masih dianggap tabu di dalam masyarakat. Namun, tetap mengandung pesan-pesan moral yang dapat dimaknai dalam hidup.
Sebagai penutup, saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai bacaan untuk memahami sisi lain kehidupan Perempuan. Buku yang akan memberikan pandangan baru mengenai kehidupan malam dari para pemilik rahim.
Penulis: Naurah Shafiqah
Editor: Ghalda Bilqis Albania
