Suka dan Duka Kuliah Online

Suka dan Duka Kuliah Online

Sumber Gambar : www.freepik.com

LPM Progress - Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) telah memberlakukan sistem belajar jarak jauh atau kuliah online untuk seluruh mahasiswanya. Libur tersebut dilakukan untuk mecegah penyebaran virus Covid-19 per hari Senin, 30 Maret hingga 30 Mei 2020. Hal ini berdasarkan surat edaran Nomor: 10/R/UNINDRA/III/2020. Terhitung hingga saat ini, sudah hampir tiga minggu para mahasiswa menjalani kuliah online, kegiatan pembelajaran yang tadinya dilaksanakan di kelas diubah menjadi online.

Ahmad Syaathir Aziiz, salah satu mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Ekonomi semester 4 mengaku kuliah online memang memiliki suasana belajar yang nyaman, santai, dan dapat dilakukan sambil tiduran di rumah. Namun, ia mengatakan kuliah di rumah atau kuliah online kurang efektif. Karena terdapat beberapa kendala yang dialami saat menjalankan kuliah online

”Susah sinyal, server penuh, dan tidak stabil. Tugas yang seharusnya sudah dikirim jadi tidak terkirim karena server yang tidak stabil ini," ujarnya saat dihubungi (27/3).

Menurut Aziiz, lebih nyaman kuliah secara langsung atau tatap muka dari pada online. Meskipun sama-sama sering diberi tugas, akan tetapi pada saat kuliah secara langsung materi yang disampaikan oleh dosen dapat dengan mudah dipahami.

Berbeda dengan mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 4, Alditya Arya Saputra. Menurutnya, menjalani kuliah online memiliki suka dan duka tersendiri. Dalam kuliah online, meskipun ada kendala dosen tetap dapat menjalankan pengajaran karena dapat dilakukan dimanapun. Tidak seperti kuliah langsung jika dosen tidak dapat hadir diperlukan kelas pengganti.

“Sukanya ya itu, seandainya dosen gamasuk kuliah karena ada sebab, bisa diganti menjadi kuliah online. Sehingga tidak ada kelas ganti," ujarnya saat diwawancara melalui Whatsapp (29/3).

Ia menjelaskan bahwa ada dosen yang menerapkan kuliah online dengan penjelasan materi yang sangat minim, namun selalu memberi tugas yang menumpuk. Hal itu membuatnya bingung akan tugas-tugas yang diberikan, sebab dosen hanya memberikan tugas tanpa disertai dengan keterangan dan ketentuan mengenai tugas tersebut.

"Dosen seharusnya bisa memberikan materi seperti layaknya di kelas, ada interaksi antara mahasiswa dengan dosen," tambahnya.

Ia pun mengungkapkan dengan adanya kuliah online ini, membuatnya harus selalu siap memegang ponsel (HP). Padahal menurutnya tidak semua mahasiswa selalu memegang ponselnya di rumah. Terdapat keadaan dimana mahasiswa tidak dapat memegang ponsel, sehingga menyebabkan mahasiswa tidak dapat mengikuti kelas maupun mengirimkan tugas sesuai waktu yang ditetapkan.

“Emang sih anak-anak jaman sekarang lebih sering pegang HP dari pada buku pelajaran, tapi kan tidak semua orang di rumah selalu pegang HP. Pas mahasiswa pegang HP tiba-tiba kelas selesai dan malah jadi absen, auto alfa deh," ungkapnya.

Tak hanya bagi mahasiswa, dosen juga memiliki suka dan duka selama menjalankan kuliah online ini. Seperti Risa Mufliharsi, dosen prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Ia merasakan suka dimana mahasiswa menjadi lebih antusias untuk menyelesaikan tugas.

“Mungkin karena hanya di rumah ya. Kalau mahasiswa semangat, dosennya pun insha Allah semangat dan secara tidak langsung literasi digital jadi bisa," ungkap Risa.

Selain itu, Risa juga mengatakan bahwa dengan adanya kuliah online ini terdapat berbagai kendala, seperti; jaringan yang kadang tidak mendukung, harus selalu memegang ponsel, dan ia harus bekerja overtime untuk menjawab semua permasalahan mahasiswa terkait perkuliahan yang diberikan. Hal ini menyebabkan berkurangnya waktu dengan anak-anaknya.

Risa juga berharap agar mahasiswa tidak memiliki prasangka buruk terkait perkuliahan online. Karena menurutnya, tidak hanya mahasiswa yang merasa tertekan dengan adanya kuliah online ini, akan tetapi dosen  merasakan hal yang sama. Dosen juga harus memberikan kuliah online yang sama-sama menggunakan biaya untuk membeli kuota internet dan lain-lain. Risa menyarankan mahasiswa agar menerima dengan lapang dada untuk semester yang darurat ini dan berpikir positif agar menjadi keberkahan dalam musibah Covid-19 ini.

 

Penulis : Andini Dwi Noviyanthi

Editor : Nira Yuliana