Tradisi Unik Saat Imlek di Wihara Dharma Bakti
Tradisi Unik Saat Imlek di Wihara Dharma Bakti
Tradisi Unik Saat Imlek di Wihara Dharma Bakti

Tradisi Unik Saat Imlek di Wihara Dharma Bakti

Petak Sembilan adalah sebuah jalan yang berada di kawasan Jakarta Barat. Jalan yang berjarak 700m dari Stasiun Jakarta Kota ini kerap dikaitkan dengan etnis Tionghoa karena dulunya pada abad ke-17, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) menempatkan masyarakat Tionghoa dalam satu wilayah, yakni wilayah Pecinan (di sekitar kawasan Petak Sembilan), untuk diisolasi.

Di Jalan Petak Sembilan terdapat sebuah pasar bernuansa Tionghoa, karena banyak dihiasi dengan pernak - pernik lampion merah. Di pasar ini banyak toko - toko yang menyediakan peralatan ibadah umat Budha, toko yang menjual camilan khas Tionghoa, toko aksesoris imlek, toko baju, serta kios yang menjual sayur - mayur seperti pasar pada umumnya.

Selain pasar, di kawasan ini terdapat rumah ibadah Tionghoa, yaitu Wihara Dharma Bakti yang tampak ramai saat imlek tahun 2020. Wihara yang menjadi wihara pertama di Batavia (Jakarta) ini didirikan pada tahun 1650. Tradisi - tradisi khas imlek sangatlah kental di dalam Wihara tersebut, seperti tradisi melepas burung dara yang disebut ‘Fang Sheng’. Dilansir dari Kompas.com tradisi ini memiliki makna yaitu, menjadi sebuah simbol menjalin hidup yang berkesinambungan dengan alam. Tradisi lain yang menjadi daya tarik warga yaitu berbagi angpao. Angpao sendiri merupakan pelafalan dari bahasa Hokkien dari kata ang pao. Sedangkan dalam kosa kata bahasa Mandarin, angpao disebut dengan hongbao, yang berarti amplop merah. Di Wihara Dharma Bakti, uang dari para jemaat yang beribadah dikumpulkan disebuah baskom yang nantinya akan dibagikan kepada warga yang mengalami kesulitan ekonomi tanpa memandang latar belakang agama.

Pada pukul 12.00 WIB (25/01/20) tampak sudah banyak pemburu angpao berjejer rapih di halaman wihara untuk menunggu pembagian angpao yang akan dilakukan pihak wihara. Banyak dari mereka menunggu sejak pagi seperti salah satu Bapak pemburu angpao yang tidak mau disebutkan namanya, “Saya dari pagi udah di sini neng," ujarnya. Jumlah angpao yang dibagikan tersebut juga beragam mulai dari pecahan Rp2 ribu, Rp5 ribu, Rp10 ribu hingga Rp100 ribu. Tradisi yang sudah ada sejak puluhan tahun ini bukan hanya menarik pemburu angpao dari sekitaran wihara saja, melainkan dari banyak daerah di Jakarta.