Selimut Jahat Jakarta

Selimut Jahat Jakarta

Kemacetan bukan satu-satunya masalah yang ada di ibu kota. Sudah menjadi rahasia umum jika Jakarta merupakan kota metropolitan yang belum terbebas dari kemacetan, karena banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, daripada trasportasi umum. Hal ini menyebabkan kualitas udara Jakarta semakin mengkhawatirkan.

Sabtu (31/8), berdasarkan pantauan melalui laman AirVisual.com yang diakses pukul 07.03 WIB, peringkat kualitas udara Jakarta berada di peringkat 2 dunia, di bawah Lahore dan Pakistan. Skor Air Qulity Index (AQI) atau indeks kualitas udara mencapai 177, menunjukan kualitas udara ibu kota tidak sehat.

Apalagi tingkat partikel PM 2.5 dengan konsentrasi 105.4 µg /m(mikrogram/meter kubik). 

Angka ini jauh dari batas aman World Health Organization (WHO), yakni sebesar 25 µg /m3 dalam 24 jam. Dikutip dari situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), partikulat (PM 2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM 2.5 = 65 µg/m3.

Aktivitas kendaraan bermotor dan industri diduga menjadi penyebab buruknya udara Jakarta. Sebagaimana berdasarkan situs Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta, Ika Warakasih Puspitawati yang memaparkan makalahnya, mengenai polusi udara dan uji emisi gas buang kendaraan bermotor, yakni jumlah kendaraan bermotor yang menyebabkan kemacetan. Hal ini juga akan meningkatkan emisi gas buang yang menurunkan kualitas udara.

 

sumber : pixabay

 

Emisi gas buang adalah sisa hasil pembakaran bahan bakar di dalam mesin pembakaran dalam, mesin pembakaran luar, mesin jet yang dikeluarkan melalui sistem pembuangan mesin. Emisi gas buang gas karbon monoksida (CO) yang beracun, karbon dioksida (CO2) yang merupakan gas rumah kaca, senyawa nitrogen oksida (Nox), senyawa hidro karbon (HC) dan partikulat debu termasuk timbel (PB) dapat mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan sekitar.

Zat-zat tersebut merupakan zat yang keluar dari mulut-mulut cerobong asap industri maupun kendaraan bermotor. Namun, partikulat 2.5 lebih ganas karena partikulat ini bisa mengandung unsur berbahaya.

Dilansir dari Greenpeace.org bahwa kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, PM 2.5 adalah polutan yang sangat kecil, bahkan ukurannya satu per tiga puluh dari sehelai rambut. Partikel ini berbahaya bagi kesehatan, apabila terhirup dalam kadar tertentu. Polutan ini dapat memicu beragam macam penyakit di antaranya : penyakit strok, jantung, infeksi saluran pernafasan, kanker dan penyakit paru kronis, atau bahkan secara diam-diam dapat menyebabkan kematian.

Dalam situsnya pada tahun 2017, Greenpeace dapat menghitung meningkatnya risiko kematian karena penyakit tertentu pada tingkat PM 2.5 tahunan. Dengan menggabungkan analisis risiko dari Global Burden Of Disease Project yang dilaksanakan The Insitute For Health Metrics and Evaluation (IHME) dan tingkat PM 2.5 tahunan.

Melihat kondisi level angka ini, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, ataupun menggunakan masker. Walaupun, dikutip dari laman Antaranews.com, Greenpeace sebagai organisasi lingkungan global menanggapi bahwa, PM 2.5 bisa dengan mudah menembus masker harian berwarna hijau yang kerap dikenakan warga ibu kota. Karena partikelnya yang halus dan hampir berupa gas, karena sangat ringan. Di sisi lain masker N95, masker putih yang memiliki penyaring di bagian depan memang lebih efektif, namun lebih mahal dari masker biasanya.

 

Penulis : Refa Tri Ustati

Editor : Nurulita