Himapol UIN gelar kampanye: ON Memorial Trouble,  di Bundaran HI

Himapol UIN gelar kampanye: ON Memorial Trouble, di Bundaran HI

Sumber Gambar: Dok/LPMProgress/ZahwaSalsabilla

 

LPM Progress - Minggu (21/09), Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UINJ) mengadakan kampanye “On Memorial Trouble: Berapa Banyak Korban Lagi?” dalam rangka Program Gerakan Literasi Politik (Gelitik) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Kegiatan ini bertemakan “September Hitam” yang merujuk pada kejadian kelam pada bulan September.

Kegiatan ini pertama kali dilakukan kembali setelah 2 sampai 3 tahun terakhir, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya demokrasi, meningkatkan literasi politik, sekaligus menampung aspirasi masyarakat yang merasa tidak puas dengan kondisi demokrasi saat ini melalui konsep “Donor Aspirasi”.

Sebelum turun ke jalan, Himapol lebih dulu melakukan kajian untuk memastikan agenda sesuai aturan dan tidak melanggar hukum. Mereka melibatkan kurang dari 50 anggota untuk ikut berpartisipasi. 

“Kampanye ini berisikan anggota dari Himapol, mungkin untuk agenda selanjutnya akan mengajak massa yang lebih banyak,” ujar Ahmad Farhan Saukani selaku Kepala Biro Keilmuan saat diwawancarai di depan Central Village, (21/09).

Selama kampanye, Ahmad menyadari bahwa banyak orang yang menolak artikel dan zine yang mereka sebarkan. Namun, ia mengatakan Himapol tetap berkomitmen menyuarakan tuntutan dan target demokrasi untuk semua orang, baik yang sepakat maupun tidak sepakat, untuk mengenali dan menumbuhkan keresahan di dalam hati mereka. 

Selain itu, dalam kegiatan ini juga menyebarkan petisi berbentuk tanda tangan untuk melegitimasi aspirasi masyarakat dan menuntut pemerintah agar mendengarkan suara ketidakpuasan atas kondisi demokrasi di Indonesia.

Petisi ini juga mendapat dukungan dari masyarakat sekitar terhadap agenda yang dihasilkan oleh Himapol, serta menuntut pemerintah untuk senantiasa mendengarkan suara rakyat. 

Tuntutan yang diajukan, antara lain:

  1. Usut tuntas dan tindak tegas atas pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan.
  2. Mendesak pemerintah agar menghentikan tindakan kekerasan dan representasi yang dilakukan aparat serta bentuk-bentuk bungkaman lainnya.
  3. Bebaskan kawan-kawan demonstran yang ditangkap dan ditahan.
  4. Tegakkan demokrasi dan keadilan setinggi tingginya.

Dengan demikian, Himapol berharap pemerintah dapat memperbaiki sistem demokrasi yang ada dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Satrio Ibra selaku Kepala Kajian Aksi dan Strategi juga berharap kegiatan ini menjadi terobosan baru yang bisa dilanjutkan dan diperbaiki ke depannya. "Sehingga gerakan pencetusan bangsa tidak hanya terbatas di area kampus, tapi juga masyarakat luas," ujar Satrio Ibra saat diwawancarai di depan Central Village, (21/09).

Selain turun ke jalan untuk berkampanye Himapol juga menggunakan platform Instagram untuk mempromosikan kampanye dan menyebarkan informasi melalui media nasional seperti Tribun ataupun Detik. Mereka turut mengundang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) untuk membantu menyebarkan agenda mereka agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.

 

Penulis: Desfi Monica 

Editor: Khoiru Nisa