Bau RDF Rorotan Tabur Kekhawatiran Perempuan Jangka Panjang
Sumber gambar: Dok/LPMProgress/Nasya Zahrotunida
RDF Rorotan sebagai ‘transisi energi’ berupaya mengurangi sampah yang menumpuk di Jakarta. Namun, selama masa uji coba, fasilitas ini menimbulkan bau menyengat yang berdampak pada daerah sekitar.
LPM Progress - Rusmiati, 45 tahun, warga Kampung Karang Tengah, Bekasi, menghirup bau sampah yang menyengat hampir setiap hari selama kurun waktu satu tahun ini.
Suatu subuh, bau itu tercium membuat anak bungsunya yang menginjak kelas empat sekolah dasar menangis, mengeluhkan kepalanya yang pusing, batuk, dan pilek, sebelum akhirnya harus tetap bergegas berangkat sekolah.
“Bukan sampah kita, bukan sampah di rumah. Gimana ya, mama mengatasinya,” kata Rusmiati.
Supaya anaknya bisa tetap berangkat sekolah, Rusmiati mengakalinya dengan memberinya masker dan membalurkan minyak kayu putih untuk sementara waktu. Ia juga menyemprotkan wewangian agar menutupi bau tidak sedap tersebut dan menenangkan anaknya, berlanjut mengantarnya pergi sekolah.
Dalam situasi seperti ini, perempuan sering kali menanggung beban pengasuhan dan perawatan rumah tangga. Hal ini dikarenakan perempuan sering menjadi pihak pertama yang harus bertindak, mencari solusi, menenangkan anak, sekaligus memastikan rutinitas tetap berjalan.
Rusmiati juga menjadi seorang bidan profesi klinik di rumahnya. Kliniknya ini dibuka rutin setiap hari dari pukul 08.00 hingga 21.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Dalam kesehariannya sebagai bidan, ia dibantu oleh satu bidan lainnya dalam menjalani profesi tersebut. Sementara itu, suaminya bekerja sebagai kepala sebuah yayasan di daerah Karang Tengah, serta rutin mengajar pendidikan agama di salah satu sekolah.
Rusmiati juga bercerita, kadang kala ibu-ibu sekitar kampung mengagendakan jalan pagi sehabis subuh, tetapi agenda itu harus dibatalkan imbas bau yang membuat kepala pusing. Mereka memilih untuk masuk ke rumah, menutup pintu rapat-rapat agar baunya tidak tercium sampai ke dalam rumah. Aktivitas jalan kaki pagi ini menjadi ruang sosial bagi perempuan untuk berinteraksi, akan tetapi dampak dari bau yang ditimbulkan menyebabkan sempitnya ruang interaksi perempuan di luar rumah.
Bau itu berasal dari Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta, atau lebih dikenal sebagai RDF Rorotan, yang berada di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, berjarak sekitar lima ratus meter dari lokasi kediaman Rusmiati.
RDF Rorotan merupakan sebuah proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) milik Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta, mulai dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (WIKA) sejak Maret 2024.
Alih-alih berjalan baik, proses commissioning (uji coba) dari teknologi ini justru menimbulkan bau menyengat yang mengganggu indra penciuman. Bau ini bervariasi, mulai dari bau sampah busuk, kayu, pupuk, zat kimia, dan variasi lainnya, biasa muncul hampir setiap saat terutama malam hari hingga subuh.
Rusmiati merasa, RDF Rorotan justru mengolah sampah tersebut di malam hari ketika semua orang waktunya tidur, sementara pagi harinya aktivitas warga sekitar harus terganggu akibat bau yang ditimbulkan.
“Jika misalkan malam gitu baunya banget sampai subuh, mungkin karena kita tidur, jadinya (RDF Rorotan) mengolah (sampah) itu,” kata Rusmiati kepada LPM Progress, (20/03).
Selama satu tahun ini, kekhawatiran Rusmiati mengakar pada masa depan anak-anaknya. Rusmiati memiliki lima anak yang sama-sama tengah menempuh pendidikan, hanya si bungsu yang saat ini tinggal bersama orang tua, ia masih sangat bergantung pada ibunya, sedangkan keempat anak lainnya tinggal di asrama dan merantau.
Dalam kondisi yang tidak sehat saat ini, Rusmiati menyampaikan penurunan produktivitas akan berdampak pada anak. Banyak kegiatan terhambat, bahkan sekadar berinteraksi dengan teman sebaya harus terhenti sesaat. Demi menjaga kesehatan, mereka terpaksa tidak keluar rumah.
“Terutama anak-anak pas lagi bau-baunya, kalau lagi bau banget menyengat, akhirnya lagi pada main pada pulang, akhirnya pada di rumah aja,” tutur Rusmiati.
Hal tersebut sejalan dengan pengalaman Rahmalia, 39 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta Garden City, Jakarta Timur, juga turut mengeluhkan bau yang menyengat indra penciumannya sejak Maret 2025.
Setiap hari, Rahmalia harus antar dan jemput anak sekolah. Ia juga bekerja sebagai agen properti, yang ia lakukan di rumah secara fleksibel tanpa terikat oleh waktu, menyesuaikan dengan adanya proyek yang perlu dikerjakan.
Hampir keseluruhan waktunya ia berada di rumah. Alih-alih mendapatkan pemandangan asri dan udara segar, Rahmalia justru mendapatkan bau yang tidak sedap ketika membuka pintu rumah.
Rahmalia mengaku awal mulanya ia tidak mengetahui dari mana bau ini berasal, menduga bau tersebut bersumber dari akuarium milik tetangga. “Ini bau apa gitu, sampai saya nengok ke sebelah akuariumnya (tetangga), kali aja ikannya mati gitu kan,” cerita Rahmalia kepada LPM Progress, (05/03).
Sementara itu, lokasi tempat tinggal Rahmalia di Cluster Shinano, Jakarta Garden City, yang berada 800 meter dari RDF Rorotan, memiliki tiga ruang terbuka hijau yang menjadi pusat bermain anak-anak, terdiri dari Taman Tori, Shiro, dan Shiba. Ruang terbuka hijau tersebut diperuntukkan agar warga Shinano dapat melakukan aktivitas outdoor.
Menjelang sore, sekitar pukul lima hingga enam, ruang terbuka hijau ini ramai oleh warga dan anak-anak sekitar yang keluar rumah untuk beraktivitas, seperti melakukan olahraga outdoor, jalan kaki dan lari, keliling sekitar sembari membawa anjing, serta bermain di playground yang tersedia untuk anak-anak. Hanya saja, semenjak uji coba RDF Rorotan dilakukan, semua aktivitas itu terhenti.
Sumber: AccuWeather
Kualitas udara menurun, serta bau yang ditimbulkan akibat RDF Rorotan ini berdampak pada kesehatan warga sekitar. Hal ini dapat ditunjukkan pada bukti alat pemantau kualitas udara di Jakarta Garden City, yang pernah mengalami peningkatan sebanyak lima puluh kali lipat dibandingkan ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi tersebut menyebabkan warga mengalami batuk-batuk dan radang tenggorokan, hidung meler, flu, mata merah dan belekan, radang selaput mata, mual, hingga muntah.
Rahmalia dan anggota keluarganya menjadi salah satu yang terkena gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta iritasi mata dan kulit. Ia menjelaskan dampak ini jadi semakin sering terasa setelah RDF Rorotan melakukan uji coba. Kondisi ini membuat beban pengeluaran finansial dan vitamin keluarganya menjadi bertambah.
Rahmalia menginginkan masa depan anak-anaknya bagus dan sehat. Ia memiliki dua anak yang masih kecil, saat ini berusia delapan dan sepuluh tahun. Dengan kondisi lingkungan yang buruk, ia khawatir penyakit yang dirasakan sekarang akan berdampak dalam jangka panjang. Meskipun pemerintah telah menyemprotkan deodorizer untuk menetralisir bau, namun masih ada polusi di sana.
“Walaupun wangi di sini, sama racun juga. Jangka pendeknya apa? ISPA, iritasi di mata, di kulit. Jangka panjangnya apa enggak kanker,” kata Rahmalia.
Kendati demikian, Rahmalia menjadi salah satu perempuan yang turut bersuara dan mendukung aspirasi hak hidup serta udara bersih yang seharusnya dilindungi oleh negara. Dari awal, warga memang sudah dilibatkan dan mau terlibat untuk mengupayakan haknya demi kelangsungan hidup yang masih panjang.
“Demi keluarga, demi anak-anak, masih kecil-kecil masa depan masih panjang kan. Kalau mereka tiba-tiba kenapa-napa kan ngeri juga,” imbuhnya.
Ketua Forum Warga Terdampak RDF Rorotan sekaligus Ketua Rukun Tetangga (RT) 18 Cluster Shinano, Jakarta Garden City, Jakarta Timur, Wahyu Andre Maryono mengungkapkan data terakhir pada November 2025, terdapat lebih dari lima puluh warga dari tiga klaster di Cakung Timur, yaitu Shinano, Mahakam, dan Savoy, yang mengalami gangguan pernapasan atau ISPA, iritasi mata dan kulit.
“Kalau saya dengar memang ada juga keluhan dari warga di tempat lain. Misalnya di Rorotan, Pusaka Rakyat, di Karang Tengah ada. Cuma mereka gak berani bersuara,” ungkap Wahyu saat ditemui di Ruang Pertemuan Cluster Shinano JGC, (25/02).
Wahyu melaporkan data permasalahan dampak kesehatan yang diakibatkan oleh RDF Rorotan ini kepada Pemerintah DKI Jakarta. Ia menjelaskan pemerintah memang mendatangkan dokter dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk melakukan pemeriksaan. Para petugas dari dinas kesehatan dan puskesmas mendata, membenarkan, serta mengonfirmasi adanya dampak kesehatan akibat operasional RDF.
Namun, menurut Wahyu, yang butuh dibantu dalam pemeriksaan dokter bukan masyarakat komplek, melainkan warga di kampung. “Kalau dilihat kan rumah di sini (Jakarta Garden City), kita udah nggak butuh puskesmas. Kami bisa berobat sendiri. Yang butuh dibantu bukan masyarakat di komplek, tapi warga di kampung,” tambahnya.
Minimnya Partisipasi Warga
Rahmalia bercerita, keresahannya ini telah berlangsung imbas tidak adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada warga sekitar, termasuk dirinya. RDF Rorotan pertama kali dibangun sejak Maret 2024, kemudian dilakukan commissioning (uji coba) pertama kali pada Februari 2025, sementara ia telah bertempat tinggal di Cluster Shinano, Jakarta Garden City, sejak 2021.
Rahmalia memutuskan untuk tinggal di klaster itu untuk memperoleh kehidupan yang baik dalam jangka panjang, akan tetapi bau RDF mengikis kenyamanannya untuk tinggal. Selama kurun waktu satu tahun, proses uji coba ini telah menimbulkan berbagai masalah, seperti asap hitam, bau menyengat, dan polusi udara. Memikirkan untuk pindah saja membuatnya banyak pikiran, sebab harga jual rumah menjadi turun, apakah nantinya ada yang akan membeli, belum lagi harga beli rumah di tempat lain akan lebih mahal.
“Kecuali RDF duluan (yang dibangun), pilihan kita mau tinggal situ atau enggak. Ini kan enggak, kita enggak ada pilihan (buat pindah),” katanya.
Wahyu menjelaskan bahwa sejak awal, warganya tidak diikutsertakan dalam sosialisasi pembangunan RDF Rorotan, termasuk dalam penyusunan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup).
Ketua Forum Warga Terdampak RDF Rorotan itu mengaku hal ini dikarenakan jarak lokasi antara Jakarta Garden City berbeda lintas kota dengan Jakarta Utara, sehingga warga terdampak lainnya tidak dilibatkan. Ini juga diakui oleh warga terdampak lainnya, seperti Kampung Karang Tengah, Bekasi, yang menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi dan partisipasi masyarakat, mereka baru mengetahui adanya RDF Rorotan ketika bau sampah RDF mulai tercium.
Informasi yang disampaikan Wahyu menyebutkan sosialisasi dilakukan oleh Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Sementara Jakarta Garden City hanya memiliki jarak sekitar 800 meter dari lokasi RDF Rorotan, sehingga bau selama proses uji coba tetap dapat tercium meskipun secara lokasi administrasi berbeda.
Dari Awal Salah Pendekatan
Idealnya, aspirasi warga menginginkan agar relokasi RDF Rorotan dilakukan supaya tidak berada di dekat pemukiman. Namun, untuk saat ini, warga terdampak tetap mengawal RDF Rorotan agar tidak menimbulkan bau yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Ibar Furqonul Akbar, selaku Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia menilai RDF Rorotan justru menjadi masalah baru yang serius. Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyatakan bahwa substansi pengelolaan sampah harus melalui pengurangan dari sumber (hulu) dan penanganan sampah (hilir).
Menurut Ibar, pandangan pemerintah saat ini masih berfokus pada hilir, dan pengelolaan sampah melalui RDF Rorotan hanya akan memindahkan sampah ke dalam bentuk lain. Pemerintah menganggap semua jenis sampah dapat diolah dan menjadi nilai ekonomi, sehingga adanya RDF ini bisa dijual serta dijadikan energi untuk pabrik semen.
RDF Rorotan memang direncanakan dapat menampung 1.500-2.500 ton sampah setiap harinya, teknologi ini dimanfaatkan untuk mengurangi beban volume sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, yang kini bisa menghasilkan 8.000 ton sampah setiap hari. Hasil dari pengolahan ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai jenis bahan bakar alternatif (RDF) sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik batubara, juga mendukung kebutuhan energi industri pabrik.
Permasalahannya, Ibar menuturkan, teknologi RDF membutuhkan hampir 90% sampah organik yang kering dan terpilah, sedangkan saat ini sampah di Indonesia sebelum masuk ke RDF masih tercampur dan basah. Hal ini menjadi tidak efektif, sebab dapat menimbulkan bau, juga munculnya asap pembakaran melalui plastik yang tercampur akan mengeluarkan racun ke udara.
“Pembakaran sampah yang masih tercampur dengan ada campuran plastik itu justru akan bahaya. Campuran plastik ini yang bikin keluarnya misalnya dioksin dan sebagainya, dan juga pasti bikin masalah untuk kesehatan kita,” tutur Ibar ketika diwawancarai melalui Google Meet, (06/03).
Ibar menegaskan, hal yang perlu didorong adalah hierarki pengelolaan sampah. Pertama, pengurangan sampah di awal baik pengurangan sampah organik atau produksi sampah plastik. Pengurangan ini disebutkan akan mengurangi 40-50% beban sampah di daerah, barulah masuk pada sistem reuse (sistem guna ulang) dan recycle.
Waste to energy menjadi hierarki paling terakhir ketika pemilahan dan pengurangan itu sudah dilakukan. Hanya saja menurut Ibar, pemerintah lewat teknologi RDF ini langsung menuju pada hierarki itu tanpa adanya pemilahan dan pengurangan sampah.
Berlanjut pada transparansi dan pengawasan, teknologi termal termasuk RDF ini harus diuji coba mulai dari bagaimana dampak dan polutan asap, fly ash (abu terbang), abu, dan residu, ditambah pada akhirnya RDF digunakan untuk mendukung pabrik semen dan pembangkit listrik batubara.
“Masalahnya adalah sejauh mana pemerintah kita mau melakukan itu semua,” ujarnya.
Ibar berharap pemerintah harus bisa fokus ke pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle), dan membuat sistem tersebut yang jelas, bukan hanya sebatas file project. Ia juga menuturkan untuk lebih memaksimalkan Bank Sampah dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R sehingga dapat mengelola sampah organik tersebut.
Redaksi LPM Progress telah mengirimkan permohonan wawancara kepada Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui alamat surel sejak Senin (02/03). Hingga berita ini diterbitkan, pihak UPST DLH DKI Jakarta tidak menanggapi permohonan wawancara tersebut.
Wartawan: Nasya Zahrotunida
Penulis: Nasya Zahrotunida
Editor: Irma Faurina
***
Liputan ini merupakan bagian dari program fellowship jurnalis untuk liputan Transisi Energi Berkeadilan yang Berperspektif GEDSI yang diselenggarakan oleh Asosiasi LBH APIK Indonesia dan Konde.co
