Di Balik Sebuah Pilihan yang Tak Bisa Diulang, Bedah Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

Di Balik Sebuah Pilihan yang Tak Bisa Diulang, Bedah Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

Sumber gambar: imdb.com

LPM Progress — Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah yang disutradarai oleh Kuntz Agus memiliki judul yang terdengar seperti sebuah andaian. Namun, andaian ini mungkin pernah terlintas pada anak yang tidak memiliki peran seorang ayah di dalam keluarganya, tetapi sering terpendam: bagaimana kehidupan seorang ibu jika ia memilih jalan yang berbeda?.

Film yang dibintangi oleh Amanda Rawles, Sha Ine Febriyanti, dan Bucek Depp ini bercerita tentang Alin, seorang mahasiswi kedokteran yang harus kembali ke rumah setelah menghadapi persoalan dengan beasiswanya. Kepulangannya membuat Alin kembali berhadapan dengan kondisi keluarganya, terutama hubungan kedua orang tuanya, Wulan dan Tio. Di tengah situasi tersebut, Alin menemukan buku harian milik ibunya yang berisi kisah kehidupan Wulan sebelum menikah dengan Tio. Dari buku harian tersebut, muncul pertanyaan mengenai kehidupan seperti apa yang mungkin dijalani Wulan jika ia memilih jalan yang berbeda.

Andaian-andaian seperti ini tidak serta-merta muncul begitu saja, melainkan terdapat faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu kurangnya peran atau kehadiran seorang ayah dalam keluarga. “Ia ada, tetapi seperti tidak ada” sehingga membuat sosok ibu sering kali mengambil peran lebih dari yang seharusnya. Hal-hal tersebut yang kemudian diangkat dalam film ini.

Dalam film ini, konflik tidak selalu digambarkan melalui pertengkaran besar. Karena sutradara membuat cerita bergerak melalui detail-detail kecil yang perlahan membuka permasalahan dalam hubungan keluarga. Dalam pandangan penulis, pendekatan seperti ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas, karena tidak semua keluarga memperlihatkan konfliknya secara terbuka, tetapi tetap menyimpan dinamika yang mempengaruhi setiap anggota keluarga.

Di awal film terdapat adegan sederhana, namun terasa dalam di hati. Adegan yang menampilkan bagaimana kuatnya seorang ibu yang selalu siap menjadi tumpuan dalam mengurus keluarga dan juga mencari nafkah. Padahal ia sendiri tentu merasa kelelahan akan itu semua, namun memilih memendam rasa lelah demi keluarganya. Adegan tersebut membuat penulis terdiam sejenak karena kedekatan emosional yang dirasakan, sekaligus memunculkan refleksi tentang betapa berharganya sosok ibu dalam keluarga.

Setelah karakter ayah yang diperankan oleh Bucek Depp muncul, penulis merasakan kesan negatif terhadap sosok tersebut yang digambarkan tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dan menjadi beban bagi keluarganya sendiri. Ia tidak benar-benar menjadi penopang keluarga, baik secara ekonomi maupun emosional seperti sewajarnya orang tua. 

Menurutku, ini menjadi gambaran tentang bagaimana figur ayah dapat kehilangan fungsinya dalam keluarga dan kekosongan tersebut perlahan mempengaruhi kedekatan di dalam rumah. 

Kondisi tersebut kemudian berdampak pada anak dan film ini tidak disajikan secara dramatis, melainkan melalui adegan seperti Anis yang membenci ayahnya demi melindungi ibunya, lalu Alin yang beasiswanya ditangguhkan dan merasa takut membebankan ibunya jika ia melanjutkan perkuliahannya, serta Aca yang terlihat ragu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Kesempatan yang seharusnya terbuka menjadi terhambat karena kondisi ekonomi keluarga. Hal ini membuat anak harus berhadapan dengan realitas yang tidak ingin ia pilih, tetapi harus tetap menjalaninya.

Dalam pandangan penulis pada film ini, sosok anak tidak digambarkan sebagai korban ekonomi keluarga secara langsung, melainkan digambarkan sebagai individu yang diharuskan tumbuh dalam situasi yang tidak ideal.

Namun, ibu dalam film ini yang diperankan oleh Ina Febriyanti juga tampak menjalani pernikahan dengan penyesalan, karena ia menjalaninya hanya sebagai jalan keluar dari berbagai kesulitan dan masalah yang dihadapi. Akan tetapi, realitas yang muncul justru sebaliknya. Pernikahan tersebut alih-alih menyelesaikan masalah, justru menimbulkan persoalan baru yang jauh lebih kompleks. Dari sini dapat dilihat bahwa pernikahan tidak selalu menjadi solusi, terutama ketika dibangun atas harapan yang terlalu sederhana seperti yang digambarkan dalam film ini. 

Satu keputusan di masa lalu dapat membentuk arah hidup seseorang secara signifikan. Kehidupan yang dijalani oleh anak bukanlah sesuatu yang dapat ia pilih sendiri, melainkan hasil dari pilihan-pilihan yang diambil oleh orang tuanya. 

Aku menganggap bahwa realitas yang dijalani di dalam film ini, itu bukanlah satu-satunya kemungkinan, melainkan satu dari berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. 

Selain itu, aku juga melihat adanya pengorbanan ibu yang cenderung dinormalisasikan. Peran ibu dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang terus bertahan dalam situasi apa pun dan menanggung beban yang bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Namun, pengorbanan tersebut tidak terlalu diakui sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan dianggap sebagai bagian dari peran yang “seharusnya”. Hal ini menunjukkan bahwa cara pandang masyarakat terhadap perempuan dalam keluarga masih tidak seimbang dibandingkan dengan pandangan terhadap laki-laki di dalam keluarga. 

Secara visual, penggunaan ruang domestik seperti rumah menjadi elemen penting yang memperkuat kesan intim sekaligus sempit. Rumah tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga sebagai simbol dari situasi yang membatasi sekaligus membentuk karakter di dalamnya. Didukung oleh tata suara dan musik yang digunakan secara minimalis, suasana yang dihadirkan terasa lebih jujur dan tidak berlebihan. 

Secara keseluruhan, film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah tidak hanya menghadirkan cerita tentang kemungkinan hidup yang berbeda, tetapi juga menjadi refleksi mendalam mengenai pilihan, konsekuensi, serta dinamika relasi dalam keluarga.

Melalui perpaduan narasi yang reflektif, pendekatan visual yang sederhana namun bermakna, serta penggambaran karakter yang terasa manusiawi, film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah menghadirkan ruang perenungan tentang bagaimana setiap keputusan dalam keluarga membentuk arah kehidupan. Film ini menegaskan bahwa masa depan tidak lahir dari satu pilihan tunggal, melainkan dari rangkaian keputusan yang saling terhubung, sekaligus mengingatkan bahwa perubahan yang bermakna hanya dapat tumbuh dari kesadaran dan penerimaan diri.

Dengan demikian, film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah berhasil menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga membuka ruang refleksi yang mendalam tentang keluarga dan pilihan hidup. Melalui pendekatan yang tenang namun bermakna, film ini menempatkan dirinya sebagai salah satu karya yang relevan dalam perfilman Indonesia, terutama dalam keberaniannya mengangkat isu-isu yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

 

Penulis: Syahrio Putrantho Ramadhan

Editor: Syakila Aulia Julianti