Antara Bising Suara Tribun dan Gema Perlawanan di Indonesia

Antara Bising Suara Tribun dan Gema Perlawanan di Indonesia

Sumber Gambar: Dok/sport.espos.id

Jika bicara tentang suporter sepak bola, identik dengan suara bising gemuruh yang kerap kali dilantangkan oleh para suporter kepada tim kebanggaannya di lapangan.  Namun, bukan hanya sekadar nyanyian di tribun melainkan gema dari suara lantang mereka yang kerap terdengar di tengah isu perlawanan sosial di Indonesia.

Bagi saya, memang seperti itu seharusnya peran suporter-suporter sepak bola itu ada, karena jika dilihat dari sejarah dan latar belakangnya, sepak bola dan semangat perlawanan itu selalu berjalan beriringan.

Dilansir dari sebuah jurnal yang berjudul “Lahirnya Kembali PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) Tahun 1950–1954” yang terbit pada tahun 2020, pada masa kedudukan Belanda, sepak bola hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas atau borjuis. Ir. Soeratin Sosrosoegondo merupakan pelopor yang mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan juga seorang pemuda yang gemar bermain sepak bola, menjadikan olahraga tersebut sebagai upaya membangkitkan jiwa nasionalisme dikalangan para pemuda untuk menentang penjajahan Belanda. 

Soeratin banyak mengadakan pertemuan bawah tanah dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Dari pertemuan bawah tanah, terbentuklah PSSI yang mendapatkan dukungan dari tujuh Bond Nasional. Bond tersebut antara lain Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM), Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), Bandoengsch Inlandsch Voetbal Bond (BIVB), Madioensche Voetbal Bond (MVB), Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), dan Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB). 

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa suporter memiliki akar sejarah. Jika dahulu sepak bola digunakan oleh para tokoh nasional sebagai wadah perjuangan, sementara di era selanjutnya posisi itu bergeser ke arah suporternya itu sendiri. 

Kita tentu mengenal nama-nama besar di Indonesia, seperti Bonek, Viking, dan juga The Jakmania yang terkenal akan loyalitas terhadap klub kebanggaannya. Mereka terbentuk bukan dari kaum elit melainkan dari jalanan, pasar, dan mereka yang menjadikan sepak bola sebagai ruang untuk mereka berekspresi dengan bebas.

Dahulu mereka mungkin hanya sekedar menyemangati tim kebanggaannya. Namun kini banyak dari mereka berkumpul untuk mendukung korban bencana, mengkritisi federasi, dan bahkan ikut dalam gerakan perlawanan nasional.

Ingatan saya tidak pernah lepas dari aksi gelombang protes para suporter saat tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 lalu, ketika mereka turun ke jalan mengutuk kekerasan dan menuntut keadilan bagi para korban yang tak kunjung datang.

Kita juga tidak bisa lupa akan beberapa rentetan gelombang protes yang terjadi di sepanjang tahun 2025, salah satunya saat aksi tolak Revisi UU TNI pada bulan Maret 2025. Gabungan dari beberapa elemen suporter mengecam tindakan represif yang kerap dilakukan oleh pihak aparat keamanan kepada massa aksi dalam mengamankan aksi tersebut.

Selain turun ke jalan, para suporter sepak bola di Indonesia juga kerap melakukan kegiatan amal seperti yang dikutip dari bola.com, Bonek Mania selaku suporter dari klub Persebaya Surabaya pada tahun 2019 pernah melakukan aksi lempar boneka ke dalam lapangan sebagai cara mereka dalam membagi kebahagiaan. Yang nantinya boneka-boneka tersebut akan disumbangkan kepada anak-anak pengidap kanker. Hal yang hampir serupa juga pernah dilakukan oleh Brigata Curva Sud selaku pendukung setia dari klub PSS Sleman, mereka melalui media sosial membuka donasi untuk para korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala pada tahun 2018. Oleh karena itu, tanpa kita sadari bahwa suporter sepak bola telah menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kelas sosial.

Tribun saat ini tidak hanya bising dengan nyanyian dukungan kepada klub kebanggaan, melainkan juga menjadi tempat bagi mereka yang tidak punya akses untuk bersuara lantang ke atas. Dari tribun stadion kritik terhadap federasi, mafia sepak bola, atau bahkan kepada aparat sering dikumandangkan.

Dari suara tribun yang terisi dengan sorakan kemenangan atau tangisan kekalahan, kini juga bisa dipandang sebagai wajah masyarakat sipil yang mulutnya tidak akan bisa dibungkam. Selama sebuah bola masih bisa berputar, maka suara mereka juga tidak akan pernah berhenti menggema.

 

Penulis: Fathan Ramadhan

Editor: Khoiru Nisa