Magang Berdampak, Mahasiswa Masih Hadapi Risiko Keterlambatan Studi

Magang Berdampak, Mahasiswa Masih Hadapi Risiko Keterlambatan Studi

Sumber Gambar: Freepik

LPM Progress - Program Magang Berdampak yang merupakan kelanjutan dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi sorotan di kalangan mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), khususnya di tingkat program studi (prodi). Meski pihak prodi menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah, mahasiswa masih dihadapkan pada persoalan konversi mata kuliah dan risiko keterlambatan kelulusan.

 

Persoalan ini sering kali muncul kendala seperti benturan jadwal magang dengan mata kuliah wajib, terutama pada semester tujuh. Sementara setiap program studi memiliki kebijakan konversi yang berbeda-beda. 

 

Kepala Program Studi Teknik Industri, Ridwan Usman mengatakan perbedaan kebijakan antar prodi ini tidak bisa dihindari lantaran setiap prodi memiliki standar dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang berbeda. Hal ini membuat sebagian mahasiswa harus menambah semester apabila program magang yang diambil tidak dapat disetarakan. 

 

Ridwan menegaskan bahwa sejak awal prodi dan universitas menyatakan konsisten mendukung program MBKM hingga Magang Berdampak. Dukungan ini dilakukan dengan mendorong mahasiswa mengikuti program sesuai dengan program studi yang sedang ditempuh. 

 

Meski demikian, program magang tersebut harus memiliki kesesuaian terhadap kurikulum agar magang yang dijalankan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menambah skill mahasiswa sesuai dengan jurusan yang diambil.

 

“Kalau ingin mengikuti Kampus (Magang) Berdampak itu, lihat dulu programnya apa yang mereka tawarkan, data sesuai enggak dengan kita,” ujar Ridwan ketika diwawancarai di Lab Industri Gedung Wisma Kampus A, (18/12).

 

Untuk menghindari persoalan konversi mata kuliah, Ridwan mengutarakan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada Dosen Penasehat Akademik (PA) dan Kaprodi masing-masing. Langkah ini dilakukan agar keputusan yang diambil mahasiswa tidak berdampak pada keterlambatan studi atau pengulangan mata kuliah.

 

Pengelola Program Studi (PPS) Didi Zainuddin juga menambahkan di Teknik Industri sendiri, mahasiswa semester tujuh yang mengikuti Magang Berdampak akan mendapatkan konversi mata kuliah jika program magang yang mereka ikuti sesuai dengan kurikulum yang ada, sehingga data yang diperoleh dari magang bisa digunakan sebagai tugas akhir (TA) apabila memiliki kesesuaian.

 

“Jadi harapannya setelah dia ikut magang, data yang didapat itu bisa digunakan sebagai tugas akhir,” ujar Didi ketika diwawancarai di Lab Industri Gedung Wisma Kampus A, (18/12).

 

Selama tahun 2025, sebanyak 15 mahasiswa Teknik Industri yang meminta tanda tangan Kaprodi untuk mendaftar program magang. Namun, hingga saat ini Ridwan selaku Kaprodi Teknik Industri belum mengetahui berapa banyak mahasiswanya yang lolos program tersebut. Ia menyebutkan data mahasiswa akan diketahui pada akhir tahun nanti.

 

Pihak kampus berupaya menyelaraskan polemik Magang Berdampak dan kebijakan pemerintah dengan tetap membuka dukungan pada program MBKM. Keselarasan ini dilakukan dengan melibatkan peran prodi dan dosen penasihat akademik dalam menyiapkan mekanisme penyetaraan, seperti Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) agar capaian pembelajaran mahasiswa tetap terpenuhi.

 

Penyebaran informasi terkait pendaftaran program juga biasanya disampaikan melalui Kemahasiswaan dan diteruskan ke grup kelas oleh dosen PA, serta mendorong sosialisasi melalui Instagram Unindra. Hanya saja pada pelaksanaannya disesuaikan dengan kurikulum tiap program studi. 

 

Wartawan: Ariqah Fahira 

Penulis: Desfi Monica

Editor: Nawal Nabila