Upaya Melawan Dominasi Maskulinitas dalam Serial Gadis Kretek

Upaya Melawan Dominasi Maskulinitas dalam Serial Gadis Kretek

Sumber gambar: Pinterest

Serial Gadis Kretek yang disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah menyajikan lebih dari sekedar intrik sejarah dan romansa. Di balik harumnya asap tembakau dan racikan rempah era 1960-an, serial Gadis Kretek menghadirkan sebuah narasi mendasar yang sering kali tersembunyi di balik sejarah industri: bagaimana tubuh dan potensi perempuan dibatasi oleh mitos-mitos yang diciptakan oleh tatanan patriarki.

Serial sepanjang lima episode yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo Dasiyah atau Jeng Yah, Ario Bayu sebagai Soeraja, Putri Marino sebagai Arum Cengkeh, Arya Saloka sebagai Lebas Abimanyu Soeraja ini bercerita tentang perjalanan Dasiyah (Jeng Yah), seorang wanita muda yang memiliki keahlian luar biasa dalam mengenali aroma dan meracik saus kretek. Namun, mimpinya untuk menjadi seorang flavorist atau peracik saus kretek terhalang oleh aturan tak tertulis yang mengakar di masyarakat dan industri saat itu. Mitos bahwa “tangan perempuan yang sedang haid dapat merusak cita rasa saus kretek” menjadi sekat tebal yang memisahkan Dasiyah dari ruang racik, ruang yang secara khusus dikuasai oleh kaum laki-laki.

Mitos-mitos biologis seperti ini tidak serta-merta muncul begitu saja, melainkan terdapat faktor sosial yang melatarbelakanginya, yaitu upaya untuk mempertahankan dominasi dan monopoli maskulin dalam industri. Perempuan kerap ditempatkan sebatas sebagai buruh pelinting di ruang belakang, sementara posisi strategis yang menentukan arah bisnis dipegang penuh oleh laki-laki. Hal-hal tersebut yang kemudian diangkat dan dikritisi dalam serial ini.

Dalam serial ini, konflik tidak selalu digambarkan melalui pertengkaran yang meledak-ledak. Sutradara membuat cerita bergerak melalui detail-detail kecil: lirikan skeptis para pekerja laki-laki, pintu ruang racik yang tertutup rapat bagi Dasiyah, hingga percakapan halus yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek dalam rumah tangga. Dalam pandanganku, pendekatan seperti ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan realitas sejarah, karena tidak semua bentuk diskriminasi gender hadir secara terbuka, melainkan terstruktur rapi dalam norma kehidupan sehari-hari.

Di awal cerita terdapat adegan sederhana, namun terasa dalam di hati adegan yang menampilkan bagaimana Dasiyah secara sembunyi-sembunyi berada di dalam ruang racik pada malam hari, mencium, menakar, dan mencampur rempah-rempah dengan penuh ketelitian. Adegan tersebut membuat penulis terdiam sejenak karena kedekatan emosional yang dirasakan, sekaligus memunculkan refleksi tentang betapa besarnya kapasitas dan keahlian seorang perempuan yang harus tersembunyi hanya karena stigma gender. 

Setelah karakter-karakter laki-laki di sekitar Dasiyah menunjukkan keberadaanya, saya merasakan kesan bagaimana dominasi patriarki bekerja. Figur laki-laki dalam tatanan bisnis tersebut kerap kali menikmati pengakuan dan posisi atas karya yang sebenarnya lahir dari pemikiran perempuan. Bakat Dasiyah tidak secara bebas diberi ruang untuk menggunakan namanya sendiri, melainkan harus berkelindan dengan kepentingan dan kepemilikan figur laki-laki. Menurutku, ini menjadi gambaran tentang bagaimana inovasi perempuan kerap mengalami komodifikasi dan penghapusan jejak peran dalam sejarah industri.

Kondisi tersebut kemudian berdampak pada perjalanan hidup Dasiyah. Serial Gadis Kretek memperlihatkan bagaimana kesempatan yang seharusnya terbuka luas bagi bakatnya menjadi terhambat karena sekat-sekat sosial. Hal ini membuat Dasiyah harus berhadapan dengan realitas yang tidak ingin ia pilih, tetapi harus tetap dijalaninya dengan keanggunan dan keteguhan. Dalam pandangan penulis pada serial Gadis Kretek, sosok Dasiyah tidak digambarkan sebagai korban yang pasrah, melainkan sebagai individu yang diharuskan tumbuh dan berjuang dalam situasi yang tidak ideal.

Selain itu, saya juga melihat adanya marjinalisasi peran perempuan yang cenderung dinormalisasikan pada zaman itu. Perempuan dalam Gadis Kretek digambarkan dituntut untuk menerima peran domestik dan menanggung beban ekspektasi sosial yang bukan sepenuhnya menjadi kehendak mereka. Pengorbanan dan daya cipta mereka kerap dianggap sebagai hal biasa atau bahkan dinikmati hasilnya oleh orang lain tanpa pengakuan yang setara. Hal ini menunjukkan bahwa cara pandang masyarakat terhadap keahlian perempuan masih sering dipandang sebelah mata dibandingkan dengan posisi laki-laki di dalam industri maupun keluarga.

Secara visual, penggunaan ruang domestik dan pabrik kretek tua menjadi elemen penting yang memperkuat kesan intim sekaligus mengurung. Pabrik dan rumah tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat, tetapi juga sebagai simbol dari struktur sosial yang membatasi sekaligus membentuk perjalanan karakter di dalamnya. Didukung oleh tata sinematografi yang anggun serta tata suara dan musik yang mengalun dramatis, suasana yang dihadirkan terasa memikat dan memperkuat bobot emosional cerita.

Secara keseluruhan, Gadis Kretek tidak hanya menghadirkan cerita tentang nostalgia bisnis kretek dan kisah cinta masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi mendalam mengenai gender, mitos, serta perjuangan kesetaraan atas karya.

Melalui perpaduan narasi yang reflektif, pendekatan visual yang sinematik dan kaya detail, serta penggambaran karakter yang terasa manusiawi, serial Gadis Kretek menghadirkan ruang perenungan tentang bagaimana tatanan sosial membentuk arah kehidupan seorang perempuan. Serial Gadis Kretek menegaskan bahwa keahlian dan kebenaran tidak lahir dari batasan gender atau mitos semata, sekaligus mengingatkan bahwa pengakuan atas karya perempuan adalah bagian penting dari pendobrakan sejarah yang bermakna.

Dengan demikian, serial Gadis Kretek berhasil menghadirkan pengalaman visual yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga membuka ruang refleksi yang mendalam tentang emansipasi dan realitas sosial. Melalui pendekatan yang tenang namun bermakna, karya ini menempatkan dirinya sebagai salah satu tayangan yang relevan, terutama dalam keberaniannya mengangkat isu-isu kesetaraan yang dekat dengan realitas kehidupan. 

 

Penulis : Windi Hasanah

Editor : Dendi Sepriandi