Dari Rasa Takut ke Keberanian, Aksi Walking Tour untuk Andrie Yunus Jadi Ruang Solidaritas
Sumber gambar: Dok/LPMProgress/SyahrioPutranthoRamadhan
LPM Progress — Minggu (12/04), telah berlangsung kegiatan Peringatan 30 Hari Pasca Serangan Air Keras: Langkah Keadilan Untuk Andrie Yunus dalam bentuk Walking Tour yang diinisiasi oleh Perempuan Mahardhika. Aksi ini dihadiri oleh berbagai aliansi masyarakat, seperti Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD), Perempuan Mahardhika, Justice, Peace, and Integrity of Creation - Ordo Fratrum Minorum (JPIC - OFM), dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).
Aksi Walking Tour ini diarahkan oleh Fathia selaku perwakilan dari TAUD dan Sarah dari Perempuan Mahardhika, dengan menjelaskan rentetan kejadian penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Insiden bermula di depan kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Jakarta, tempat dimana Andrie Yunus sudah dipantau oleh beberapa orang tidak dikenal (OTK), hal tersebut juga terlihat dari rekaman kamera pengawas kantor YLBHI. Lalu, perjalanan berlanjut ke kawasan Gedung Metropole XXI, para OTK disinyalir melakukan perubahan rencana, lantaran Andrie memilih untuk mengisi bahan bakar terlebih dahulu.
Setelah itu, perjalanan mengarah ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini, disini para OTK terus membuntuti dan memastikan keberadaan Andrie Yunus sebelum melanjutkan aksinya. Setelahnya, kegiatan berakhir di Jalan Talang yang menjadi titik akhir sekaligus tempat kejadian perkara (TKP) penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Sarah dari Perempuan Mahardhika mengatakan kegiatan walking tour ini berangkat dari keresahan dan ketakutan teman-teman pasca kejadian tersebut. Hal tersebut yang pada akhirnya mendorong Sarah dan teman-teman yang lain untuk menginisiasi kegiatan ini sebagai upaya melawan rasa takut tersebut.
Ia juga menyebut kasus Andrie Yunus merupakan bentuk pembungkaman terhadap suara anak muda, khususnya mahasiswa yang rentan mengangkat isu-isu sensitif. Sarah menilai kasus ini bagian dari rangkaian kriminalisasi dan intimidasi terhadap aktivis.
“Aku pikir ketika ini tidak diusut tuntas, ini akan dianggap jadi hal yang wajar lainnya gitu loh. Hal wajar untuk, oh iya nggak apa-apa mereka dapat intimidasi karena mereka vokal, mereka berisik, jadi mereka dibungkam, nggak apa-apa gitu,” ujar Sarah saat diwawancarai di Jalan Talang, Jakarta Pusat, (12/04).
Lebih lanjut, Sarah menegaskan aksi solidaritas antar kelompok menjadi faktor penting dalam membangun keberanian untuk terus bersuara. Proses saling bertukar pikiran di antara jaringan disebut mampu mengubah ketakutan menjadi dorongan untuk tetap mengawal isu tersebut.
Sarah menegaskan gerakan solidaritas ini tidak akan berhenti selama kasus ini belum menemukan kejelasan. Menurutnya, masih banyak pihak yang merasa resah dan marah atas peristiwa penyiraman air keras tersebut.
“Aku yakin bahwa teman-teman diluar sana yang marah atas kasus ini gak akan diam saja ketika kasus ini dibiarkan,” ujar Sarah.
Dalam kegiatan ini, massa aksi berharap agar pemerintah segera mengungkapkan aktor intelektual dibalik kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus serta membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).
Wartawan: Syahrio Putrantho Ramadhan dan Irma Faurina
Penulis: Syahrio Putrantho Ramadhan
Editor: Ratih Nuriah Sapitri
